Beritaislam- Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kultural Garis Lurus, KH Luthfi Bashori tak sependapat dengan anggapan yang menyebut bahwa China bukanlah penjajah. Hal itu sekaligus menanggapi pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj yang menyebut China tidak memiliki karakter menjajah. Baca Artikel Menarik Lainnya
Kaliini kami hadirkan tulisan KH Muhamad Najih Maemoen beliau adalah Ulama muda NU yang sangat disegani keilmuanya dan dihormati ketegasannya dalam membawa ajaran lurus Nahdhotul Ulama yang kini justru sudah banyak dinodai oleh tokoh NU itu sendiri. Khilafah Dambaan Kita Semua
diMei 06, 2018 Berita, Dakwah, Hoax, Literasi, Daftar media Islam radikal (Salafi-Wahabi) versi siber NU yang dikembangkan Tim Cyber NU dan LTNNU PBNU ini harus dipahami semu akalangan. Tim Cyber NU dan LTNNU PBNU beberapa waktu lalu memang merilis website-website Islam radikal yang perlu diwaspadai.
Beredar narasi yang menyebutkan Nahdlatul Ulama ( NU) telah berganti logo. Logo terbaru NU ditambahkan simbol salib. Narasi tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama Tanue Brewok pada Senin (7/9/2020). Pada bagian bawah logo NU diberi keterangan ' NU Protestan Rahmatan Lil Alamin'. " Alhamdulillah saya masih di NU garis lurus
Semuaulama besar dan para imam kita adalah dari kalangan mereka; al-Baqilani, al-Isfaraini, imamul Haramain al-Juwaini, Abu Hamid al-Ghazali, al-Fakhr ar-Razi, al-Baidhawi, al-Aimidi, asy-Syahrastani, al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnu Daqiqil Id, Ibnu Sayyydinnas, al-Balqini, al-Iraqi, an-Nawawi, ar-Rafi'i, Ibnu Hajar al-Atsqalani dan as-Suyuthi.
Vay Tiáťn Nhanh Ggads. NU Garis Lurus menanggapi tulisan KH. Imam Jazuli yang berjudul "Menimbang Radikalisme NU Garis Lurus Neo-KhawarijââŹÂ yang dimuat oleh Tribunnews pada 9 November 2019. Baca Juga DPR dan Pemerintah Sepakati Biaya Haji 2023 Rp 90 Juta Terungkap, Ternyata NII Rancang Aksi Lengserkan Jokowi Sebelum Pemilu 2024 Berhasil Ungkap Kasus Korupsi Besar, Firli Bahuri Layak Jadi Calon Alternatif 2024 Sudah jama' diketahui bahwa ketiga tokoh di atas adalah ulama berfahamkan Ahlussunnah wal Jamaah. KH. Luthfi Bashori adalah putra dari KH Bashori Alwi, seorang Ulama sepuh NU di Jawa Timur. Background pendidikan KH Luthfi Bashori adalah dari Pesantren Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki sorang "Pendekar Aswaja MakkahââŹÂ yang gencar melawan Neo Khawarij. Beliau juga masih aktif di kepengurusan MWC NU Singosari Malang. Adapun karya tulis beliau adalah "Musuh Besar Umat IslamââŹÂ dan "Sunni dan Wahabi, Dialog Ilmiah Seputar Amaliah Ahlussunnah wal JamaahââŹÂ.Perlu ketahui, representasi dari neo khawarij ialah Wahabi Musuh Besar Umat IslamââŹÂ karya beliau ini terfokus pada pembahasan sekte Liberalisme yang membahayakan aqidah umat Islam. Buya Yahya awal belajar di Madrasah Diniyah yang diasuh oleh KH. Imron Mahbub. Pada tahun 1988 sampai 1993, Buya Yahya kembali melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darullughah Waddawah di Bangil. Kala itu pesantren tersebut diasuh oleh Habib Hasan bin Ahmad tahun 1993 sampai 1996, Buya Yahya pernah mengajar di Pondok Pesantren Darullughah Waddawah Bangil. Namun di tahun 1996 Buya Yahya berangkat ke Universitas Al Ahgaff Yaman atas perintah dari Habib Hasan Bin Ahmad Baharun. Beliau menempuh pendidikan di Yaman selama 9 tahun atau tepatnya sampai tahun 2005. Tidak hanya menempuh pendidikan di Universitas Ahgaff, Buya Yahya juga belajar di Rubath Tarim yang diasuh oleh Habib Salim Buya Yahya menempuh pendidikan di Yaman, beliau memang banyak belajar mengenai ilmu fiqih dari para Mufti Hadramaut diantaranya adalah Habib Ali Masyur bin Hafidz, Syekh Fadhol Bafadhol, dan Syekh Muhammad Al Khathib. Selain ilmu fiqih, beliau juga belajar mengenai ilmu hadist dari para ahli hadist diantaranya Sayyid Amad bin Husin Assegaf, Habib Salim Asysyatiri serta DR. Ismail Kadhim Al Aisawi. Selain itu Buya Yahya juga mengambil ilmu ushul fiqih dari ulama-ulama ahli. Selain belajar, Buya Yahya juga pernah mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Ilamiah di Universitas Ahgaff Yaman selama 3 tahun. Idrus Ramli sendiri mendalami ilmu Agama di Pesantren salaf Sidogiri selama 18 tahun. Menerima ijazah sanad dari Syaikh Yasin al-Fadani, Makkah al-Mukarramah. Pengabdiannya di NU adalah lewat LBM Lembaga bahtshul masail dan RMI Rabithah Maahid Islamiyah PCNU Jember bahkan pernah pula menjabat di LTN Lajnah Talif wan Nasyr di NU Jawa Timur. Karya beliau di antara Madzhab al-Asy'ari Benarkah Ahlussunnah wal Jamaah, Jawaban Terhadap Salafi, Pintar Berdebat Dengan Wahabi, melihat dari riwayat hidup para tokoh tersebut, baik dari trah keturunan, institusi pendidikan, medan dakwah serta percikan pemikiran yang tertuang dalam karya mereka. Tidak satupun mencerminkan tokoh-tokoh yang dituduh Imam Jazuli ini sebagai para penggerak Neo Khawarij. Jika hanya lantaran para tokoh itu memilih medan dakwah nahi mungkar dalam bidang aqidah, kemudian dituduh sebagai orang yang berfahamkan Khawarij, lalu bagaimana dengan ulama-ulama dahulu yang berdakwah dalam bidang aqidah semisal Imam al-Ghazali, Syaikh Abdul Qahir al-Baghdadi bahkan sampai Syaikh Hasyim Asy' menanggapi tuduhan KH. Imam Jazuli yang mengatakan bahwa ketiga tokoh adalah pemimpin NU Garis Lurus, terpapar Neo Muktazilah, melakukan pentahrifan kitab Syaikh Hasyim Asy'ari, melakukan penyelewengan dan penyempitan ajaran komperhensif-holistik dari Syaikh Hasyim Asy'ari dan masih banyak lainnya. NU Garus Lurus kemudian mengambil beberapa tulisan KH. Imam Jazuli yang cenderung menfitnah dan yang perlu tentang tulisan KH Imam Jazuli, bahwasannya ketiga tokoh tersebut petinggi NU Garis Lurus, dalam tulisannya menulis"Dengan gaya radikal, NU Garis Lurus menjelma gerakan neo-khawarij, yang menuduh sesat siapa saja yang menyimpang dari tafsir keagamaan versi dirinya, termasuk Gus Dur, M. Quraish Shihab, dan Kiai Said Aqil Siradj. Tokoh-tokoh NU Moderat ini tidak lepas dari cercaan mereka. Mencerca tokoh NU moderat sama persis dengan saat mencerca kelompok Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, dkk..ââŹÂMenurut KH Luthfi Bashori, selaku ketua NU Garis Lurus ketika dikonfirmasi menjelaskan bahwa julukan NU Garis Lurus adalah murni bahasa wartawan majalah Alkisah. Jadi NU Garis Lurus itu bukanlah sebuah organisasi, tetapi sebuah sikap keagamaan yang melekat pada ketiga tokoh. "Siapapun orangnya, selama ia berbasis Ormas NU dan masih berpikiran lurus sesuai pemikiran Syaikh Hasyim Asyari, bukan seperti oknum-oknum petinggi NU struktural yang terserang pemikiran Liberal dan ada yang Syiah, maka orang tersebut, baik dari NU Struktural, maupun kultural, mereka tergolong NU Garis Lurus,ââŹÂ terang KH Luthfi Bashori dalam keterangan resminya pada Kantor Berita , Kamis 14/11.Menurut KH Luthfi Bashori, sikap ini mengikuti para pendahulu NU, seperti saat KH. As'ad Syamsul Arifin yang pernah menolak kepemimpinan Gus Dur, karena perilaku Gus Dur yang beliau nilai telah keluar dari aturan Tempo edisi 2 Desember 1989, saat itu KH. As'ad mengatakan, "Saya memilih mufaraqah memisahkan diri, tetap di satu masjid tapi tidak mau jadi makmum. Ya, bagaimana, wong ketika salat imamnya kentut atau kelihatan ââŹËanuââŹâ˘-nya. Masak saya mau makmum jugaââŹÂ.Sebagai budayawan, Gus Dur saat itu menganggap aktif di bidang kesenian adalah bagian dari dakwah. Karena itu, dia tak menolak saat diminta memimpin Dewan Kesenian Jakarta, menjadi juri film, membuka Malam Puisi Yesus Kristus, dan cenderung membela Syiah. Perilaku yang tidak menunjukkan sifat tashawwuf dan zuhud dari Gus Dur ini ditanggapi keras oleh Kiai As'ad."Ketua NU kok jadi pimpinan ketoprak," begitu Kiai As'ad menumpahkan kekesalannya seperti tertuang dalam buku Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat karya Syamsul A. Hasan. Kedua, tuduhan Neo Khawarij kepada tokoh-tokoh di atas yang dinisbatkan kepada kelompok Khawarij dengan istilah Neo Khawarij. Menanggapi hal ini, KH Luthfi Bashori menyebut bahwa Neo Khawarij sendiri diambil dari kata NeoââŹÂ dan KhawarijââŹÂ. Neo berasal dari kata /nĂŠo-/ yang memiliki arti baruââŹÂ atau yang diperbaruiââŹÂ. Sedangkan KhawarijââŹÂ merujuk pada sebuah faham sempalan dalam Islam. Jadi Neo Khawarij berarti menggambarkan munculnya Khawarij baru dari tokoh-tokoh di atas, namun sayangnya penulis tidak memberikan contoh yang jelas tentang tuduhan khawarij menurut Syaikh Abul Mansur Abdul Qahir al-Baghdadi dalam kitab al-Farqu Baynal FiraqââŹÂ ialah satu faham sempalan dalam Islam yang berkeyakinan bahwa iman tidaklah cukup hanya dilafalkan dengan kalimat Syahadah, iman harus diikuti amal shaleh. Konsep ini berkembang pada titik pengkafiran pada orang yang melakukan dosa besar. Contoh, orang yang meninggalkan kewajiban haji masuk kategori kafir. Sebab hal ini menyalahi al-Quran Ali imron QS 97. Intinya, faham Khawarij ini faham takfiri. Benarkah KH. Luthfi Bashori, Buya Yahya dan KH Idrus Ramli berfahamkan Khawarij. Ini tuduhan gegabah yang dilakukan seorang yang mengaku akademisi. Berikut kutipan selengkapnya KH Luthfi Bashori Bagaimana Anda menanggapi tuduhan KH. Imam Jazuli bahwa NU Garis Lurus dianggap terlalu menggeneralisir semua Syiah wajib dimusuhi?Imam Jazuli melakukan tuduhan kepada kami di atas mentahrif kitab "Risalah Ahlussunnah wal JamaahââŹÂ dengan menggeneralisir semua Syiah wajib dimusuhi. Dia menyebut Syaikh syaikh Asyari tidak memusuhi Syiah secara umum, namun hanya kepada Syiah Rafidhah. Dalam tulisannya Imam Jazuli menulis"Dalam rangka menyerang NU Moderat, NU Garis Lurus mengangkat isu-isu lama, seperti permusuhan terhadap Syiah dan Ahmadiyah. Ironisnya, NU Garis Lurus terperdaya oleh kaum Wahhabi yang mentahrif atau mengubah teks kitab ar-Risalah karya Hadratus Syeikh Hasyim Asyari. Mbah Hasyim tidak memusuhi kelompok Syiah secara umum, tetapi khusus Syiah Rafidhah, yakni mereka yang memusuhi para sahabat Indonesia, kelompok Syiah Rafidhah itu tidak ada. Tetapi, karena terjebak oleh versi Wahhabi, NU Garis Lurus menyamakan seluruh Syiah tanpa mampu membedakannya dengan Rafidhah. Dari sinilah potensi destruktif aliran NU Garis Lurus terlihat nyata. Sehingga ia tak ubahnya dengan golongan radikalis Islam lainnyaââŹÂ.Yang perlu dipersoalkan dalam paragraf di atas ialah pertama, alih-alih mengkritik NU Garis Lurus yang dinisbatkan kepada kami, Imam Jazuli terjebak pada istilah NU Moderat. NU disandingkan dengan Moderat. Sedangkan moderat sendiri adalah lahir dari Barat Sekuler Liberal yang anti terhadap agama. Menurut Dr Hamid Fahmi Zarkasyi pakar bidang pemikiran, konsep moderat berbeda dengan konsep washathiyah atau tawasshut dalam istilah NU. Washathiyah identik dengan keadilan, menunjukkan kemuliaan, kebaikan, keseimbangan dunia-akhirat, tidak berlebihan tidak juga meremehkan ibadah atau perintah agama. Sehingga wasathiyah merupakan sifat dari Islam moderat menurut Barat, adalah dengan ciri-ciri Muslim yang tidak anti semith tidak anti Yahudi, kritis terhadap Islam dan menganggap Nabi Muhammad tidak mulia dan tidak perlu diikuti, pro kesetaraan gender, menentang jihad, menentang kekuasaan Islam, pro pemerintahan sekuler, pro Israel, pro kesamaan agama-agama, tidak merespons terhadap kritik-kritik kepada Islam dan Nabi Muhammad, anti pakaian Muslim, tidak suka jilbab, anti syariah dan anti terorisme. Inilah arti moderat menurut Barat. Dengan menggunakan istilah yang diadopsi dari konsep milik Barat Liberal, maka bisa dikatakan bahwa jika Imam Jazuli yang lulusan al-Azhar ini dengan atau tanpa sengaja dia sudah berpikiran liberal. Fenomena demikian tidak aneh, sebab sudah banyak sekali orang-orang bahkan tokoh yang terjebak pada pemikiran liberal baik sengaja maupun tidak. Tentunya banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu menjadi liberal tanpa Imam Jazuli menilai NU Garis Lurus melenceng dari pemikiran Syaikh Hasyim Asy'ari?Imam Jazuli tidak faham pemikiran Syaikh Hasyim Asy'ari, dengan mengatakan bahwa para tokoh yang dituduh NU Garis Lurus ini telah melakukan tahrif kepada kitab Risalah Ahlusunnah wal Jamaah kitab Syaikh Hasyim Asy'ari, yang katanya Syaikh Hasyim Asy'ari tidak memusuhi Syiah pada umumnya. Perlu diketahui, dalam kitab al-Farqu bainal Firaq, Syiah secara Global dibagi menjadi tiga yaitu Syiah Zaidiyah, Syiah Rafidha dan Syiah Ghulluw. Ketiga kelompok Syiah ini berpecah menjadi beberapa kelompok lagi yang mana ada di antara mereka saling mengkafirkan. Adapun dari ketiga kelompok besar itu, hanya kelompok Zaidiyah yang memiliki kesamaan dengan Ahlussunnah wal jamaah. Namun meski kelompok zaidiyah adalah kelompok paling dekat dengan Ahlussunnah wal jamaah, ternyata Syaikh Hasyim Asy'ari dalam muqaddimah Qanun Assasi lil Jamiyyah Nahdhlatul Ulama mengatakan Syiah Zaidiyah termasuk kelompok Ahlul Bid'ah. Sebagaimana penulis kutip dari tulisan Kholili Hasib M. Ud seorang pakar bidang aliran sesat dan anggota MUI Jawa Timur, dalam bukunya "Sunni dan Syiah Mustahil Bersatu, dan sub bab Kyai Hasyim Asy'ari tentang SyiahââŹÂ.Dalam sejumlah kitab yang ditulis oleh beliau Syaikh Hasyim Asyari, kekeliruan aqidah Syi'ah dibahas dengan panjang lebar dan dengan rujukan ulama salaf. Jelasnya, sebelum beliau mengambil sebuah kesimpulan, beliau sering mengutip pendapat ulama terdahulu dan hadits Nabi Muhammad saw. Beberapa karya beliau yang layak untuk disebutkan, misalnya adalah, Muqaddimah qanun Asasi lil jamiyah nahdhlatul Ulama, Risalah Ahlussunnah wal jamaah, al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin, dan al-Tibyan fi Nahyi an Muqatha'ah al-Arham wa al-Aqrab madzhab lain seperti Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah adalah Ahli Bid'ah. Dan sehubungan itu, apapun pendapat yang berasal dari mereka tidak boleh Syiah Zaidiyah yang dekat dan memiliki kesamaan dengan Ahlussunnah wal jamaah dinyatakan Ahli Bid'ah dan dilarang masyarakat Nahdhiyin untuk mengambil pendapat dari mereka. Bagaimana dengan kelompok Syiah lainnya yang tentunya lebih ekstrim dan radikal?Dalam hal ini tidak dibutuhkan logika level tinggi untuk mencernanya. Jadi adanya perubahan kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamah yang dilakukan tokoh ketiga tokoh di atas ini, hanyalah tuduhan keji semata yang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Hal ini bisa masuk dalam ranah pelanggaran hukum, karena telah menuduh tanpa bukti paragraf akhir Imam Jazuli menulis "Jangan sampai menuruti hawa nafsu kekuasaan lalu tega hati melakukan penyelewengan dan penyempitan atas ajaran komprehensif-holistik dari Hadratus Syeikh Hasyim mereka yang menjadi pengurus NU struktural banyak yang melakukan penyelewengan. Contohnya, terjadi kerjasama antara NU struktural dengan Syiah Iran. Bahkan jauh sebelum itu, Gus Dur dengan tak sungkan-sungkan mengatakan bahwa NU adalah Syiah Minus Imamah. Menurut Sumber Majalah Berita Mingguan GATRA Edisi 25 November 1995 bahwa Kyai Bashori Alwi mengatakan pernah mendengar pidato Gus Dur di Bangil, Jawa Timur, menyebut Ayatullah Khomeini sebagai waliyullah atau wali terbesar abad ini. Padahal, menurut pendapat Ahlusunah wal Jamaah, jelas bahwa Syiah itu menyimpang dari Kyai Bashori Alwi bertanya, "Bagaimana sih sebenarnya akidah sampeyan tentang Syiah ini?ââŹÂ . Menurut Effendy Choiri, yang dikenal sebagai pendukung Gus Dur, jawaban Gus Dur sebagai berikut "Dari segi akidah, memang beda antara Syiah dan Sunni. Saya melihat Khomeini itu waliyullah bukan dalam konteks akidah, melainkan dalam konteks sosial. Khomeini adalah satu-satunya tokoh Islam yang berhasil menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, dan lain-lain. Jadi soal akidah kita tetap beda dengan Syiah."Padahal jelas dan tegas sebagaimana kita bahas di atas, bagaimana Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dalam berbagai kitabnya mengatakan bahwa aliran Syiah adalah sesat, hatta itu Syiah Zaidiyah, serta melarang masyarakat NU untuk menjalin hubungan baik siapa yang sebenarnya melakukan penyelewengan terhadap pemikiran Syaikh Hasyim Asy'ari? Wallahu a'lam bis shawwab.[aji] Baca Juga Said Abdullah Bantah DPR Percepat Pengesahan RUU KUP Nusron Wahid Minta Masyarakat Tidak Suudzon Terkait Kebakaran Kilang Minyak Pertamina di Cilacap Pemilihan Calon Anggota BPK Relatif Monopolistik DPR
Oleh Muhammad Saad BARU-BARU ini kelompok aktivis muda Nahdhatul Ulama NU mengaku resah atas fenomena lahirnya âNU Garis Lurusâ. Kelompok yang semula hanya muncul di akun Facebook dan twitter ini tiba-tiba pamornya naik. Alih-alih dinilai banyak meresahkan para aktivis NU muda, kegeraman terhadap âNU Garis Lurusâ yang dipromosikan di jejaring social membuat namanya kita melejit. Belakangan, kelompok ini juga melahirkan laman internet dengan alamat; Sebelum ini, fenoma âNU Garis Lurusâ telah membuat banyak kalangan seolah kebakaran jenggot. Sebut saja misalnya aktivis liberal yang juga aktiv di PDI-P, Zuhairi Misrawi dalam kicauannya di twitter tanggal 04 April 2015 mengatakan, dirinya baru membolikir NU Garis Lurus yang dituduhnya sebagai Wahabi dan PKS, âBaru memblokir akun NU Garis Lurus yang mengaku NU, tapi kicauannya mirip Wahabi dan PKS.â Mungkin karena geram, dua hari setelah itu, 6 April 2015 ia mengaku telah memblokir akun NU Garis Lurus dan twitternya. âSetelah ada akun dan web NU Garis Lurus yang ingin wahabisasi NU,kini muncul antitesanya NUgarislucu ,â ujarnya. Fenomena NU Garis Lurus tak hanya meresahkan Zuhairi. KH Misbahul Munir LDNU berkomentar, âHari hari ini mulai ada NU Garis Lurus, heran juga. Masuk NU harusnya niat memperbaiki diri bukan memperbaiki NU.â Bahkan Nur Khalik Ridwan, menulis artikel di laman yang menyebut NU Garis Lurus amat membahayakan apa yang telah diperjuangan Gus Dur dan Gus Mus. âNU Garis Lurus yang tidak mencantumkan siapa sebenarnya pengelola dan komunitas mana yang mengembangkan ini, justru memperkuat dugaan demikian. Web ini berusaha memicu pergolakan internal NU dan dimanfaatkan oleh orang tertentu, agar lapisan terdidik NU terus menerus mengurusi soal laten percekcokan sektarian. Yang bisa dimanfaatkan untuk itu adalah figur-figur seperti Ust. Idrus Ramli, Gus Najih, Gus Luthfi, dan lain-lain-lain. Dari jantungnya sendiri, mereka menghantam orang-orang yang telah bertahun-tahun berjuang untuk NU dan menegakkan muruah NU di jagad Indonesia dan dunia, sepertu Gus Dur dan Gus Mus.â [Nur Khalik Ridwan, âMasalah Pemurniah ASWAJA NU Garis Lurus â , Kamis, 02 April 2015, Tak terkecuali tokoh Jaringan Islam Liberal JIL, Ulil Abshar Abdala ikut pula gerah . âAkhir-akhir ini ada gerakan yg menamakan dirinya âNU Garis Lurusâ. Namanya sendiri sudah menunjukkan bahwa yg membuat gerakan ini tak mengerti kultur NU,â ujar Ulil melalui akun twitter Ulil. âKalau NU diluruskan garisnya, maka ya jadi Wahabi. Garis NU itu lentur; filosofinya seperti tali jagad di logo NU itu. Talinya lentur dan longgar, tidak ketat,â ujar Ulil Abshar Abdala dalan akun twitter Ulil, 7 April 2015. Mengapa banyak pihak seolah merasa tersengat? Sebagaimana tagline kelompok ini yang tertera di laman jika kehadirannya mengembalikan ajaran NU yang dibawa KH Hasyim Asyâari yang Sunni, tidak Sekularis, pluralis dan liberalis SePILIS. âNU GARIS LURUS adalah merupakan upaya pengembalian pemahaman warga NU kepada ajaran KH. Hasyim Asy`ari yang murni Sunni Syafi`i Non SePILIS Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme.â[ Sebagaimana diketahui, kelompok-kelompok berpaham liberal dan Syiah dinilai telah banyak menyusup dalam tubuh NU benar-benar merasa terusik ketika gerakan ini muncul dengan nama âNU Garis Lurusâ, seolah ingin meluruskan pemikiran NU yang sudah tidak murni lagi. Adalah KH Lutfi Bashori putra KH. Bashori Alwi sesepuh NU Jawa Timur yang dikenal berdakwah dan fokus pada pembersihan virus-virus akidah semisal sekularisme, pluralisme dan liberalisme [SePILIS dan Syiah dalam tubuh ormas Islam di Indonesia ini. Pada bulan Februari 2015, ia membidani lahirnya ASWAJA Ahlus Sunnah Wal Jamaah GARIS LURUS. [Baca ASWAJA Garis Lurus Pemerintah Bisa Larang Aktivitas Syiah] Semula, kelompok ini hanya kumpulan beberapa aktifis Aswaja yang tergabung dalam Grup Pejuang ASWAJA, lantas dalam penjabarannya mendapat tambahan GARIS LURUS dan menjadi Pejuang ASWAJA Garis Lurus. Dalam keterangannya di laman tambahan Garis Lurus untuk membedakan dari warga NU bahkan sebagian tokoh NU, yang sudah keluar dari ajaran akidah KH. Hasyim Asyâari sebagai pendiri NU. [Baca GROUP PEJUANG ASWAJA GARIS LURUS di Namun belakangan, atas gagasan KH Luthfi Bashori ini muncul pihak-pihak tertentu dengan membuat Fanspage Facebook dengan nama yang sama. Tepatnya pada 27 Oktober 2014, Fanspage yang berjudul âNU Garis Lurusâ dibuat. Namun KH Luthfi Bashori sendiri dalam keterangan resmi di situs pribadinya, telah menjelaskan akun Facebook NU Garis Lurus tidak memiliki kaitan dengan Grup ASWAJA Garis Lurus. Meski tidak ada kaitan antara keduanya, tetap saja keberadaan Grup ASWAJA Garis Lurus dan akun Facebook NU Garis Lurus mencemaskan kelompok penganut paham liberal dan pendukung Syiah. Pertama, kaum SePILIS dan Syiah meradang, sebab kesesatan dua faham yang menjadi benalu di tubuh NU ini dibongkar oleh NU Garis Lurus. Bukti kemarahan salah satu dari mereka yang berfaham liberal adalah sebuah tulisan di web resmi dengan judul âMeluruskan âNU GarisLurusâ. Dalam tulisan itu, M. Alim Khoiri menulis âKerikilâ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena âNU GarisLurusâ. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatas namakan âNU Garis Lurusâ ini tak segan â segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said, artikel ini tak lepas dari serangan mereka. M. Alim Khoiri , âMeluruskan âNU GarisLurusâ â NU Penulis artikel ini juga mengatakan bahwa NU Garis Lurus adalah kelompok yang mengatas namakan NU untuk menandingi keberadaan faham â faham yang dianggap sesat. M Alim menulis âGerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham â faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalism atau faham âSyiâahismeâ. Menurut mereka, faham â faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip â prinsip terlarangâ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NUâ. Dari dua pernayataan di atas, M. Alim seorang Nahdhiyin yang tampak berpemikiran liberal, sangat kelihatan emosional dan tidak ilmiah dalam merespon NU Garis Lurus.* bersambungâŚyang geram kehadiran NU Garis Lurus⌠Penulis adalah warna NU, alumni PP Aqdaamul Ulamaâ Pandaan-Pasuruan, Anggota Pejuang Aswaja Garis Lurus
daftar ulama nu garis lurus